Secangkir Kopi Hitam

by - Desember 17, 2016




“,,,Kuterpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu caramu melihat dunia
Kuharap kau tau bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Kutak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku slalu didekatmu,,,”

 Ditemani secangkir kopi hitam kesukaannya dan nada-nada indah Raisa penyanyi favoritnya, Rima masih saja berkutat dengan buku ditangannya. Sejak tadi siang buku Half Full-Half Empty yang bertema motivasi karya Parlindungan Marpaung itu belum lepas dari genggaman tangannya. Ia melepasnya hanya pada saat akan makan dan shalat saja. Sebab, bukan kebiasaanya untuk menyisakan sisa bacaan bila tidak sampai tuntas. Sesekali disesapnya secangkir kopi hitam yang nyaris tandas hingga menyisakan serbuknya saja. Menyadari didalam cangkir hanya tinggal ampasnya saja, Rima mengerucutkan bibirnya tanda sedikit kecewa. Tapi itu hanya berlangsung sejenak. Beberapa detik kemudian ia telah tenggelam kembali bersama lantunan nada-nada indah Mp3 yang memutar lagu milik Raisa di telinganya dan tentu saja buku motivasi ditangan. Dua kegiatan ini adalah hiburan paling menyenangkan bagi Rima. Tapi sayangnya saat ini ia sedang tidak dalam rangka liburan atau menghibur diri. Tepatnya ia sedang self healing alias sedang berusaha menyembuhkan diri diri sendiri. Berusaha menyembuhkan hati tepatnya. Porsi hati yang sedang terbelah-belah membuatnya frustasi belakangan ini.
Semua terjadi begitu saja. Entah bagaimana awalnya, tidak jelas juga. Dejavu itu ada. Hari ini hadir kembali setelah 5 tahun berlalu. Mustahil rasanya bisa  menemukannya lagi diantara milyaran manusia dimuka bumi ini dan jutaan penduduk kota Jakarta. Rasanya tak perlu lagi siapa menemukan siapa. Yang jelas bertemu lagi. Titik.

***

Segala rasa berkecamuk dalam hati Rima saat itu. Pertemuan yang tidak sengaja saat Rima sedang menemani sahabatnya Yuna ke toko buku di salah satu Mall kota Depok. Rima dan Yuna memiliki minat yang sama yaitu ; buku. Tapi mereka berbeda dari soal selera. Bila Rima cenderung menyukai tema Roman dan Biografi, namun lain halnya dengan Yuna yang tergila-gila pada komik Jepang.
Mirip adegan sinetron, Rima rebutan  buku Biografi Erdogan, Presiden Turki. Sudah lama ia ingin mengenal sosok orang nomor satu Turki itu. Kalau hanya dapat dari media saja, rasanya hanya pemberitaan sepihak saja dan biasanya sudah dibumbui kepentingan politik. Tepat pada saat tangan Rima meraih buku biografi itu, pada saat yang sama sebuah tangan pun sedang mencoba meraih pula. Secepat kilat, Rima yang memenangkan adegan rebutan itu. Dengan senyum penuh kemenangan Rima memamerkan buku Biografi Erdogan yang secara kebetulan tersisa satu buah di tangan kanannya pada sosok didepannya.

“Maaf mas, rejeki saya nih”,kata Rima tersenyum senang memenangkan perebutan buku. Begitu Rima membalikkan badan menuju kasir hendak membayar, sosok laki-laki tadi menyebut namanya.

“Rima ya? “, tanya pria itu. Merasa namanya disebut orang, sontak Rima balik badan sambil menunjuk dada dengan ekspresi membelalakkan matanya.

“ Ya saya Rima, apa kita pernah kenal sebelumnya?” tanya Rima sopan.

 Kini tidak lagi dengan senyum kemenangan tadi, tapi bingung. Apa iya, pria ini memanggil dirinya. Sambil celingukan kanan kiri, kalau saja ia salah dengar atau salah orang. Betapa malunya ternyata salah orang, sementara yang memiliki nama Rima mungkin saja ratusan orang di kota Depok ini. Jilbab dustypink-nya bergoyang-goyang mengikuti gerak kepalanya kekiri dan kekanan yang berusaha mencari sosok lain selain dirinya dilokasi tempatnya berdiri. Namun tak ditemukannya ada orang lain selain dirinya dan pria tadi di area rak buku biografi.
Masih dengan tatapan ragu dan bingung, Rima masih berdiri di tempatnya, memastikan situasi ini. Pria itu segera mengulurkan tangannya.

“Masih ingat saya Rima Sandra Dewi?”.

Rima meneliti sosok pria dihadapannya dengan seksama seraya memiringkan kepala dan menyipitkan matanya. Tinggi badannya standar orang Indonesia mungkin sekitar 173 cm dengan berat badan yang proporsional, itu terlihat dari baju yang dikenakannya terlihat pas melekat ditubuhnya tanpa kekecilan ataupun kelonggaran. Hmm,,, selera berpakaian pria ini lumayan juga, pikir rima. Mengenakan jeans warna biru gelap dipadu dengan kaos tanpa kerah warna putih bergambar gitar. Casual style, kesukaannya. Memang ini salah satu hobi Rima, menilai sifat orang dari selera berpakaiannya. Entah dari mana pula ia mendapatkan ilmu meramal demikian.
Sadar diperhatikan seksama oleh Rima, membuat pria ini sedikit jengah.

“Ada yang salah dengan pakaian saya Rima?”, tanyanya.

“Ohh,, ga kok. Tapi bagaimana anda tau nama saya?

“Hmm,,,ternyata waktu dan jarak telah membuat kamu melupakan semuanya”

Astaga, ini dia! Wajah Rima terasa panas dan raut mukanya pasti terlihat pias. Buru-buru ia berikan yang buku sudah dipegangnya tadi pada Dewa tanpa melihat kebelakang lagi langsung pergi keluar dari toko buku dan tidak memperdulikan panggilan Yuna.

“Lo kenapa sih Rim? Aneh banget buru-buru aja. Kan gue belom puas lihat komik yang lain”.

Yuna akhirnya berhasil menyusul langkah Rima yang bagai orang kesurupan. Cepat dan langkah yang panjang. Tapi yang diajak bicara terus memacu langkahnya menuju area parkiran.

 “Lho, kok malah pulang sih Rim, kita masih mau makan dulu kaliii, laper nih gue”.

Yuna terus saja menggerutu pada sahabatnya yang tiba-tiba bersikap aneh. Rima masih acuh, sembari menyetop sebuah taksi untuk  membawa dirinya dan Yuna pergi melesat dari mall ini.
Didalam taksi tak henti-hentinya Yuna menggerutu pada Rima, soal ia yang belum puas berkeliling toko buku melihat koleksi komik jepang terbaru, bahkan belum jadi membeli. Apes deh jalan kali, rutuk Yuna dalam hati. Pasti sang princess sedang PMS nih, pikirnya.

“Lo tuh ya Rim, kalo emang lagi PMS ngapapain ngajak gue jalan, ngebetein banget sih lu Rim,” Yuna cemberut.

“Ada Dewa disana, Yuna!”, ucap rima dengan suara tertahan. Segera Rima memalingkan wajahnya Yuna. Dan kedua bola mata Rima hampir mengeluarkan air mata.

***
Kata orang, kalau ada pertemuan pertama biasanya akan ada pertemuan yang kedua. Benar saja, ada pertemuan yang berikutnya antara Rima dan Dewa di rumahnya. Entah bagaimana Dewa tau alamat rumahnya, padahal sejak terakhir mereka bertemu dulu, 5 tahun silam, Rima tak pernah memberi taukan tempat ia berdomisili. Sejak pertemuan pertama yang mengejutkan bagi Rima, ia mulai menata hatinya, agar tak terbaca jelas bagaimana suasana hatinya yang sebenarnya. Sekuat tenaga ia menahan segala rasa yang hendak melompat-lompat keluar.

***

Dewa adalah sosok pria yang sebenarnya tak pernah ia lupakan. Ia ada dalam kotak istimewa hatinya, tersusun rapi. Dulu Dewa hadir begitu saja dalam hidupnya, tanpa persetujuan hatinya bahkan menerobos dinding hatinya yang telah berpenghuni. Sudah ada Eki saat itu. Tapi, dengan sadar, Rima menyediakan beberapa persen kepingan hatinya untuk dimiliki Dewa. Saat itu hatinya terbelah, antara Eki dan Dewa. Rima terpikat pada pesona Dewa, tepat saat pandangan pertamanya dengan pria bertubuh kurus dan kulit hitam manis itu. Tutur katanya sopan dan cara pandangnya tentang apapun membuat Rima jatuh terjerembab dalam lautan kasmaran. Tak pernah ada kisah antara Rima dan Dewa. Hanya pertemuan pertama itu saja di kampus saat ia sedang liburan. Dan seketika mereka berkenalan, ngobrol apapun jadi lancar dan mengalir begitu saja, seperti orang yang sudah lama kenal. Tak disangka, Rima yang biasanya sulit berinteraksi dekat dengan lawan jenis, kali ini terlihat luwes. Dari situ, mereka saling bertukar nomor ponsel. Intensitas hubungan via ponsel lah yang lebih banyak. Obrolan bisa mengenai apa saja. Tampak sekali Rima menikmati hubungannnya dengan Dewa, entah apa namanya iapun tak tau. Yang penting ia sudah nyaman.  
Pada saat yang sama hubuangan percintaannnya dengan Eki tengah bermasalah. Ada sedikit cekcok dengan Eki perihal fans-fans fanatik Eki yang tak kunjung hentinya menggangu hubungan Rima dan Eki. Eki adalah ketua senat kampusnya yang berwajah ganteng dan berotak encer dengan pergaulan yang sangat luas dikalangan kampusnya. Dan ini berbanding lurus dengan para mahasiswi yang mengidolakan sosok Eki. Kampus Eki dan Rima berbeda. Jaraknya sekitar sekali naik angkot.
Sebenarnya Rima sudah sangat lelah, menghadapi suara-suara miring tentang Eki dikampusnya. Namun, atas rasa cinta dan saling percaya, semua suara miring tadi tak begitu dipedulikan Rima. Pada saat hubungannya dengan Eki bergolak itulah, Rima bertemu Dewa. Ia dikenalkan oleh Adipati, teman sekelasnya.

“Hey, Rima kenalin nih teman aku dari  Jakarta".

  Kala itu, Rima menyambut baik uluran tangan Dewa. Sepuluh menit kemudian mereka telah terlibat obrolan hangat. Sesekali diselingi tawa canda, bagai orang yang sudah kenal lama. Entah karena Rima sedang galau, atau karena Dewa yang memang pandai mencari topik pembicaraan, sepuluh menit awal perjumpan serasa reuni.

“Widihh, dah langsung akrab aja nih berdua”, seru Adipati.

Baik Rima dan Dewa hanya tersenyum malu, menyadari ledekan Adipati.
Jika bagi orang lain pertemuan singkat seperti itu adalah biasa, tapi tidak bagi Rima. Disamping kondisi hatinya yang sedang galau, ada penawarnya juga. Dewa kerap menyambanginya via ponsel, alias bertelepon saja. Genap dua bulan hubungan itu berjalan,Dewa menghilang. Tepatnya ia kembali ke Jakarta, dan meninggalkan Rima di kota Medan tanpa ada pesan apapun. Rima kehilangan. Tapi kalau mau mencari Dewa, untuk apa? Pikir Rima. Toh tak ada ikatan apaun antara dirinya dan Dewa. Sudahlah, berarti tidak jodohku, pikir Rima. Tapi, tidak dapat dipungkiri, kehadiran Dewa yang secepat kilat, telah menumbuhkan bunga-bunga indah di hati Rima. Cinta pada pandangan pertama Rima.

***
Itu lima tahun lalu,

***

Setelah lulus kuliah, Rima merantau ke Jakarta mengikuti panggilan pekerjaan. Minatnya pada dunia hukum, membawa nasibnya bekerja disebuah firma hukum seorang pengacara ternama. Walaupun masih junior dan kerap diperlakukan seperti anak bawang, namun prestasi kerja Rima berbanding terbalik  dengan perlakuan rekan seniornya di kantor. Rima sering memenangkan berbagai kasus yang ditanganinya. Dan itu membuat atasan menyayangi Rima sianak bawang. Otak cerdasnya memang mumpuni.
Disela waktunya sebagai pengacara, Rima masih meluangkan waktunya untuk bercengkrama dengan buku-buku kegemarannya. Buat Rima, membaca adalah makanan jiwa. Lagipula sangat membantu pekerjaannya sebagai pengacara muda dalam memahami kasus.
Dan, dalam kurun waktu lima tahun itu, hubungan Rima dan Eki sudah membaik pula, bahkan kedua orangtua mereka telah saling menentukan tanggal untuk pernikahan mereka. Dua bulan mendatang, rencana indah Rima dan Eki akan segera diselenggrakan. Saat ini mereka tengah disibukkan dengan segala pernak-pernik pernikahan. Mulai dari mencari gedung, katering, undangan, pakaian pengantin dan segala tetek bengek lainnya. Sebenarnya sudah ada Wedding Organizer dan pihak keluarga yang  mengurus semuanya. Namun Rima ingin terlibat secara langsung juga dalam acaranya kelak. Dan sampai saat ini, semua sudah ready sekitar 75%. Artinya hanya dalam hitungan bulan, Rima resmi akan menyandang status Nyonya Eki Purnama.

***

Dan, hari ini, siang ini Rima bertemu lagi dengan Dewa, ditoko buku tadi. Betapa berisiknya gemuruh jantungnya bertalu-talu. Dicobanya menahan rasa yang tak mengerti itu sendirian. Akibatnya malah menyakitkan buat dirinya. Selama dua minggu, nafsu makannya hilang sama sekali hingga ia kehilangan berat badannya 10 kilogram.Dan membuat malamnya tak mampu memejamkan mata tanpa melupakan nama Dewa, sementara ada nama Eki yang sebentar lagi akan disandangnya dibelakang namanya. Kalau kata Yuna, sindrom orang mau menikah, jadi stress sendiri. Ah, sok tau aja tuh anak, kayak orang sudah menikah saja.

“Yuna, lo dimana? Kita harus ketemu. Ini soal Dewa.Urgent!”, kata Rima pada sahabatnya.

Siang itu, Rima menyambangi rumah Yuna yang tak jauh dari rumahnya. Dengan berjalan kaki, sekitar 10 menit, sampailah Rima dirumah Yuna. Mama Yuna seperti biasa menyambut Rima hangat dan ramah kedatangan Rima. Bagai rumahnya sendiri, Rima langsung menuju kamar Yuna dilantai dua. Rumah keluarga Yuna bertingkat dua dengan model minimalis dengan cat warna abu-abu kombinasi putih.
Setibanya di kamar Yuna, buru-buru Rima menutup tirai jendela kamar Yuna, seakan takut didengar orang pembicaraan mereka, padahal kamar Yuna dilantai dua. Benar kata orang, tingkah orang jatuh cinta jadi terlihat bodoh, sepintar apapun orangnya.
“Mati gue Yun, hubungan gue sama Dewa mulai membaik, sejak pertemuan gue ditoko buku kemaren itu. Eh, dari mana dia tau alamat rumah gue ya?”, kata Rima.
“Sorry Rim, dari gue. Eh trus gimana kalo Eki tau lo ada hubungan lagi sama Dewa?”, sahut Yuna tanpa memperdulikan tatapan kaget Rima.
“Gara-gara lo nih, berarti”, sahut Rima sekenanya.
“Enak aja lo, gara-gara gue. Kalo lo dah gada rasa sama dia bakal biasa kali Rim,kenapa jadi bawa-bawa gue. Orang dia minta alamat dan nomer ponsel lo baik-baik yaa gue kasih lah. Sekarang sih tergantung elonya Rim. “gantian Yuna yang menceramahi Rima.
Itulah masalahnya. Rima masih menyimpan rasa itu untuk  Dewa sepaket dengan segala pesona yang ditawarkannya.
Tiba-tiba poselnya benbunyi, tertera dilayar nama Eki my love. Saat hendak mengangkat ponselnya, ponselnya yang satu lagi berdering, tertera di layarnya Dewa. Rima dilema, menelan ludah padahal tenggorokannnya sedang tidak krering. Yuna serba salah melihat paras sahabatnya yang kini pias dan memucat. Kenapa pada saat yang bersamaan, dua pria yang sama-sama dicintainya menelpon dirinya. Akhirnya Rima mengangkat calling dari Eki.

“Halo beib, kok lama sih angkat telponnya? Kamu lagi dimana? Kamu nggak kenapa-napa kan beib? “, segala pertanyaan Eki memberondong gendang telinga Rima.

“Aku nggak kenapa-napa kok  beib, ini lagi main ke rumah Yuna mo nyicipin masakan baru Yuna.”sahut Rima sembari mengedipkan sebelah matanya pada Yuna, yang dibalas pelototan oleh Yuna.

“Oh gitu, aku khawatir sama kamu beib, aku Cuma mo mastiin keberadaan kamu disana baik-baik aja kan, perasaan aku ga enak aja seharian ini.”kata Eki.

Mati gue, Eki mulai curiga sama gue, Rima berkata dalam hati.

“Kalau kamu nggak kenapa-napa, ya udah, aku tenang sekarang. Salam buat Yuna ya beib, jangan banyak-banyak makannya tar kamu gendut aku gamau lho,”kata Eki seraya tertawa.

“Heheheh,,,ga lah beib, tar aku juga susah fitting baju pengantin kita,”sahut Rima ikut tertawa. “Udah dulu ya beib, ada panggilan masuk nih, dari mama nih, tar telpon lagi yaa, daag beib, love you”, kata Rima dan mematikan panggilan dari Eki tanpa menunggu Eki mengakhiri pembicaraannya terlebih dahulu. Bukan kebiasaan Rima seperti ini. Biasanya Rima selalu menerapkan peraturan menelepon, siapa yang menelepon, dia yang boleh mengahiri telepon, bukan malah sebaliknya.
Secepat kilat, tangannya meraih ponsel yang satunya lagi yang tadi tertera nama Dewa. Sebab, Dewa calling berkali-kali. Yuna hanya geleng-geleng kepala melihat aksi sahabatnya itu.

“Ya , hallo Dewa. Ada apa?” tanya Rima.

“Aku ganggu kamu ga Rima Sandra Dewi?”, Dewa selalu memanggil nama Rima secara lengkap.

“Hmm, ga juga sih. Emang kenapa?,”tanya Rima tanpa mampu menyembunyikan senyumnya.

“Kalo boleh, aku mau ketemu kamu sore ini, ada yang pengen aku omongi sama kamu, penting banget,” kata Dewa.
Bagai disengat lebah, Rima terhenyak mendengar ajakan Dewa. Sebab, ia tak meyangka Dewa akan mengajaknya keluar berdua sore ini. Hari ini hari Sabtu, berarti malam Minggu. Oh my God, mati gue, gimana ini, bisik hatinya.
Tapi, yang orang lagi kasmaran, otak dan hati sering ga kompak. Rima mengangguk yang segera disadarinya tak mungkin terlihat oleh Dewa. “Oke, “hanya itu yang keluar dari mulut Rima.
Namun, rasa bahagia itu segera berganti bimbang. Kalau ia bertemu dengan Dewa sore ini, bagaimana kalau ada teman Eki yang melihat pertemuan ini, atau bahkan Eki sendiri yang memergoki ia dan Dewa. Kekacauan apa yang akan terjadi nanti. Rima menghela nafas panjang.
Ponselnya sudah berpuluh kali berdering tanpa diangkat. Dilayar tertera nama Dewa. Sampai langit  menjemput malam beserta bulan dan segalaksi bintang, Rima tak kunjung beranjak dari kamarnya. Ditemani secangkir kopi hitam dan sebuah buku motivasi ditangan dan headset yang menempel dikedua telinganya mendengar lantunan suara indah milik Raisa.
Sembari menatap layar ponselnya dan melepas headset ditelinganya dan juga menaruh bukunya kembali dirak, Rima berjalan menuju jendela. Satu lagi kegiatanya kala dirundung rasa bimbang, bingung dan galau, Rima senang memandangi langit malam yang kebetulan malam itu sedang cerah.
Bahagia yang mendominasi namun disertai jantung yang berdegup sangat kencang. Jika bisa dimuntahkan rasa bahagia itu dari mulut, mungkin ia akan melakukannya saat itu juga, biar ketahuan sebesar apa rasa senangnya. Ya Tuhan,  ternyata rasa itu masih ada, Rima bergumam sendiri sembari memejamkan matanya.
Rasa cinta dan kasih sayang adalah anugerah Tuhan pada tiap manusia. Sebab tiap manusia dilahirkan dari seorang ibu yang memiliki sifat Tuhan yaitu Rahim yang berarti kasih sayang. Itulah modal awal manusia untuk bertarung melalui kehidupannya kelak pada saat menatap dunia fana.
Jelas Rima mensyukuri segala nikmat Tuhan itu pada dirinya. Pun saat ini. Bila dihitung waktu, sudah lama juga ia tak merasakan rasanya hati yang berbunga-bunga, melayang-layang di awang-awang dan jatuh diantara bintang-bintang. Tapi, kenapa baru sekarang?. Hatinya terbelah. Dan secangkir kopi hitam kesukaannya pun tandas bersama ampasnya.



SELESAI









You May Also Like

0 komentar