Beginilah Dampak Negatif Bullying terhadap Tingkat Rasa Percaya Diri Seseorang

by - September 07, 2019


                                                          Foto. Google
"Keluarga adalah rumah yang paling nyaman bagi perkembangan mental anak."

Bullying atau perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja terjadi berulang-ulang untuk menyerang seorang target yang lemah, mudah dihina secara verbal.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa perilaku bullying memberikan dampak buruk secara psikis, fisik dan sosial terhadap korban. Bullying verbal adalah bertujuan untuk merendahkan harga diri korbannya dan membuat si korban menjadi “alien” di lingkungannya.

Verbal bullying sangat sulit diketahui tanda-tandanya karena tidak meninggalkan jejak secara fisik. Tapi, korban akan terpengaruh secara traumatis yang sangat dalam, bahkan mungkin seumur hidupnya. Bullying verbal ini bisa dilakukan secara diam-diam, apalagi di zaman digital sekarang ini. Seseorang bisa saja mengejek orang lain secara anonim. Sehingga sekarang muncul istilah cyber bullying.

Biasanya bullying secara verbal, sangat mudah terjadi dalam lingkungan keluarga, pergaulan sehari-hari bahkan ada juga di dalam dunia pendidikan. Misal, verbal abuse yaitu ketika orangtua, pengasuh atau lingkungan disekitarnya sering melontarkan kata-kata yang merendahkan, memojokkan, meremehkan atan melabeli anak dengan label negatif. Dimana membuat semua hinaan tersebut akan mengkristal dalam diri si anak. Disinilah awal mula rasa percaya dirinya akan tergerus sedikit demi sedikit atau mungkin lebuh parahnya, tidak bertumbuh.

Sedangkan menurut pakar psikologi anak, justru rasa percaya diri seorang anak akan berpengaruh besar terhadap proses kehidupannya baik secara pribadi maupun secara sosial kelak. Hal ini tanpa disadari kerap dilakukan oleh orangtua. Alih-alih membuat anak bersemangat dalam hidupnya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mental anak menjadi drop. Ia kehilangan percaya dirinya. 

Adapun ciri yang mendasar pada anak yang kerap mendapatkan verbal abuse, tingkat percaya dirinya yang rendah. Berikut ini ada 3 faktor terjadinya verbal bullying:

1.  Faktor dari keluarga. Pelaku bullying seringkali datang dari keluarga yang bermasalah. Sehingga ia melampiaskannya dalam bentuk perlawanan kepada tindakan bullying. Demikian halnya pula dengan korban. 
2.  Faktor sekolah. Karena bullying verbal tidak terlihat kasat mata, maka acapkali pengawasannya rendah. Padahal perkembangan verbal bullying pesat berkemabng di sekolah. 
3.    Faktor lingkungan. Anak akan meniru apapun yang menjadi kesehariannya. Seperti tayangan televisi yang seakan memberikan legitimasi perilaku kekerasan.

Dari uraian diatas, dapat kita menarik kesimpulan bahwa perilaku bullying baik sebagai pelaku dan korban sebenarnya dapat dicegah. Bagaimana caranya? Ketiga faktor pencetus diatas diharapkan saling bersinergi, bahu membahu satu sama lain untuk melindungi anak-anak yang berada di sekitar kita agar terhindar dari perilaku bullying. 


Paling tidak, peran keluarga adalah sebagai benteng utama sebagai unit terkecil dalam tatanan masyarakat menjadi tameng utama bagi perlindungan anak terhadap bullying yang mana akan berpengaruh besar terhadap rasa percaya dirinya. Tidak sedikit para pakar psikologi menyatakan bahwa pendidikan karakter itu murni dibentuk dari rumah. Sebab, waktu anak nyatanya lebih lama berada bersama orangtua dari pada bersama guru-guru disekolah dan di lingkungannya. 

Ini tentu masih akan terus menjadi pekerjaan rumah bagi semua orangtua untuk lebih fokus membangun konsep diri anak. Supaya kelak si anak mampu menaklukkan perilaku bullying dan menjadi pribadi yang kuat dengan tingkat rasa percaya diri yang stabil. 



You May Also Like

0 komentar