Inilah 6 Kiat Mudah Mendidik Anak Supaya Tidak Manja

by - September 20, 2019




“Menunjukkan kasih sayang kepada anak tidak melulu dengan memanjakan, tapi lebih kepada mempersiapkan mereka untuk dapat mandiri.”
Ilmu mendidik anak akan terus berkembang dari waktu ke waktu sesuai peredaaran zamannya. Bahkan seorang sahabat Rasulullah SAW, yakni Ali RA mengatakan bahwa, “didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.”

Hallo Sahabat Nova, tidak ada seorang ibu yang tidak sayang kepada anak-anaknya. Namanya juga lahir dari rahim ibu, yang artinya sayang, setiap anak yang dilahirkan penuh perjuangan kasih sayang. Namun yang membedakan sayang itu kadang pada kadarnya. Jika berlebihan akan menjadi memanjakan anak itu sendiri yang pada akhirnya menjadi bumerang terhadap orangtua.

Artikel ini sedikit banyaknya berangkat dari keresahan saya terhadap sikap posesif yang berlebihan kepada si sulung. Kini usianya sudah 11 tahun, namun masih menunjukkan sikapnya yang manja,  padahal adiknya ada 3 orang lagi. 

Setelah saya telaah dan pelajari, ternyata bahasa cinta saya sebagai seorang ibu lebih dominan kepada bahasa pelayanan. Apa-apa saja kebutuhan anak, sebisa mungkin saya layani sebaik mungkin. Setahun lalu, saya masih mencoba menggendong dia di di punggung. Padahal beratnya sudah mencapai 50 kg dengan tinggi badan 150 cm.

Tapi sejak setahun lalu pula saya dan suami mencoba mengubah pola asuh kami terhadap keempat anak-anak supaya mereka tidak menjadi manja. Sebab, sebagai orangtua kita mesti sadar, seharusnya kita mempersiapkan mereka, melatih mereka untuk mandiri yang berguna bagi kehidupan mereka kelak, bila kita sudah tidak ada lagi.

Setelah belajar ilmu parenting kesana-kemari, akhirnya saya menemukan 6 formula mudah untuk mendidik anak supaya kelak mereka tidak menjadi manja lagi. Yuk simak ulasan berikut ini yaa..

Membuat peraturan. 
Setiap keluarga memiliki peraturan berbeda-beda. Dengan adanya peraturan diharapkan anak akan belajar disiplin mengenai waktu dan hal-hal lainnya. Upayakan aturan dibuat seluwes mungkin, kalau bisa didiskusikan bersama aturan apa yang akan dimasukkan,  supaya anak merasa lebih memiliki rasa tanggung jawab terhadap poin-poin peraturan tersebut.
Peraturan yang kami buat dirumah dirembukkan bersama anak-anak, apa kegiatannya, waktunya, dan ditempel di dinding yang selalu dilalui. Saya mengambil posisi menempel “daily activity” yang berisi aturan-aturan itu di lorong antara kamar mandi dan dapur. Kebetulan di rumah kami, lorong ini menjadi lalu lintas paling padat.
Alhamdulillah, selama ini peraturan yang kami sepakati bersama itu, belum di rombak, baik isi maupun kertasnya.  

Wajib konsisten dengan aturan yang sudah dibuat.
Mengubah kebiasaan memang bukan pekerjaan mudah, termasuk konsisten dengan aturan yang sudah dibuat. Ada saja halangan tidak terduga dalam pelaksanaannya. Namun, setidaknya berusaha mendekati full konsisten akan peraturan, layak diberi reward.

Tidak mudah menyerah dengan segala bentuk rengekan.
Ibu mana yang tahan dengan rengekan anaknya. Jadi kedua orangtua harus saling bahu membahu mengingatkan tentang peraturan tersebut berguna membangun mental dan disiplin anak-anak. Tidak mudah memang melalui tanpa rengekan manja mereka, anak-anak. Justru disinilah anak akan belajar arti konsisten. Melihat sang ibu luluh dengan rengekan, maka buyarlah ilmu disiplin dan segala peraturan tadi.

Jangan pernah berpikir anak akan kecewa dengan segala aturan.
Jadi sebelum membuat peraturan harian di rumah, ada baiknya diberikan edukasi terlebih dahulu terhadap anak. Sosialisasikan kepada mereka bahwa aturan ini kita buat demi kebaikan mereka juga. Awal-awalnya kami, melakukan trial-error dulu. Supaya anak tidak kaget dan dengan lebih mudah menerima segala konsekuensinya.

Mengajari anak akan pentingnya tanggung jawab.
Kemarin malam saya dikejutkan dengan pertanyaan si sulung. “Ma, apa sih artinya tanggung jawab itu?” . Saya menjawabnya dengan analogi sederhana yang mudah ia pahami. Kira-kira begini jawaban saya,”tanggung jawab itu ialah segala kewajiban kamu yang boleh mama papa minta. Contohnya, kami membelikan sebuah pensil untuk kamu pakai menulis. Kamu tahu Nak, papa sudah bekerja keras untuk membiayai kita termasuk membeli pensil yang harganya lebih murah dibandingkan uang jajan kamu. Nah, kamu mesti jaga, hargai dan lindungi pensil itu dengan hati kamu ya sayang. Begitulah kira-kira makna tanggung jawab yang kamu tanyakan tadi. Mama percaya, kamu pasti bisa kok menjalaninya.” Lalu sambil saya peluk dan cium si sulung penuh kasih. Tampak pancaran matanya menunjukkan kecerahan. Semoga ia benar-benar memahaminya, tentu kami selalu akan menuntunnya menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Tidak memberikan benda dan hadiah secara cuma-cuma.
Nah, biasanya kaum bapak nih yang suka memberikan hadiah kepada anak tanpa ada kejadian spesial apapun sebelumnya. Namun, kami berdua bertekad untuk mengubah perilaku manja anak-anak menjadi lebih mandiri. Tega nggak tega ya Bun..
Jadi kami menyiasatinya dengan memberikan tantangan/chalenge setiap harinya. Misalnya, kalau mendapatkan nilai 100 pada pelajaran sekolahnya setiap hari dalam seminggu, akan diberikan reward berupa hadiah-hadiah kecil. Misalnya mainan lego yang sedang diinginkannya. Namun, supaya berimbang, reward biasanya berdampingan punishment/hukuman. Bagi anak yang tidak mencapai chalenge tersebut, berkewajiban melakukan pekerjaan rumah tangga semisal mencuci piring satu kali waktu jam makan.

Bunda, memang tidaklah mudah mengubah gaya pengasuhan terhadap anak, dari yang tadinya dimanjakan, lalu kemudian berusaha mengikis sedikit demi sedikit kemanjaan tersebut. Semuanya tentu saja demi kebaikan sang anak untuk hidupnya kelak. Semoga bermanfaat yaa..


You May Also Like

0 komentar