Pemberian Nama yang Baik Merupakan Hak Anak terhadap Orangtua dalam Islam

by - September 09, 2019



"Panggillah seseorang dengan nama yang disukainya.."


Nama merupakan doa dari kedua orangtua terhadap anak. Banyak harapan yang dititipkan dalam sepenggal kata-kata tersebut. Nama-nama keempat anak saya pun penuh unsur doa dan harapan kami kepada mereka. Nama anak pertama saya, Sachya Billazati Syava. Sachya berarti seorang anak yang dermawan (dalam bahasa arab). Billazati, terdiri dari 2 kata yakni bi dan lazah, yang artinya dengan kenikmatan, kesenangan. Dan Syava mengandung arti obat, penyembuh serta kebetulan gabungan nama saya dan suami. Untuk panggilan sehari-hari, si sulung dipanggil dengan nama Kia. Kadang kalau sedang jalan-jalan, dia sering melihat namanya, Kia tertera pada papan nama, merk mobil dan toko  keramik. Dan ini membuat dia senang. Kadangkala teman-teman sekolahnya memanggil dengan nama kiyai. Justru semakin kedengaran bagus bukan?

Sahabat.., setiap anak tentu saja ingin dipanggil dengan nama yang indah, mempunyai arti yang baik dan ia sukai. Jangan sampai ketika ia besar, lalu mengetahui namanya bukanlah nama yang baik, baik secara arti atau kurang indah untuk diucapkan. Alih-alih bangga menyandang nama pemberian orangtuanya, sang anak bisa saja mengganti nama lahirnya. Bisa dengan alasan biar dianggap keren dan sebagainya. Misalnya, Bambang diubah jadi Bams, David diubah jadi Dave dan lainnya.

Beberapa hari ini, viral pemberitaan mengenai nama seorang anak artis tanah air. Perkaranya mengenai si artis yang tidak terima nama anaknya di gunakan oleh orang lain. Alasannya, ia sudah bersusah payah mencari ide agar nama sang anak tercipta dengan indah dan tentu saja berbeda dengan orang kebanyakan. Wah, repot juga juga jika perkara nama saja dipermasalahkan seperti ini.

Islam sendiri mengatur hak seorang anak terhadap orangtuanya, salah satunya pemberian nama yang baik. Sebab, nama merupakan masalah yang penting dalam kehidupan manusia.  Nama juga menjadi hiasan bagi pemiliknya, menjadi wadah, syiar dan julukan bagi si pemilik nama di dunia dan akhirat. Seperti nama Uwais al Qarni yang sudah terkenal di langit ya.., wallahu ‘alam bisshawab.

Oke, mari kita lanjutkan mengenai nama tadi. Dijelaskan bahwa nama dalam agama Islam merupakan kebanggaan terhadap agama agar ia merasa dia bagian dari agamanya. Untuk jumlah suku katanya, boleh panjang dan boleh pendek. Adapun hukum asal dari sebuah pemberian nama dalam Islam adalah mubah atau boleh. 

Namun walaupun demikian ada beberapa rambu-rambu yang patut juga untuk diperhatikan dalam pemilihan nama:
11. Diharapkan nama yang diberikan tidak mengandung penghambaan terhadap selain Allah Swt.
22. Alangkah baiknya bila memberikan nama putra-putri Anda dengan nama-nama Allah (Asmaul Husna). Misalnya Ar-Raziq, Ar-Rahman dan banyak lagi yang lainnya.
33. Sebaiknya dihindari memberikan nama anak dengan nama orang non muslim dimana nama tersebut secara langsung menunjukkan identitas mereka.
44. Hindari juga memberikan nama anak kita dengan nama patung atau tokoh-tokoh yang dianggap zalim.
55. Jangan memberikan nama anak Anda dengan makna yang buruk serta memberikan potensi untuk menjadi bahan olok-olok nantinya.
66. Berikan nama anak Anda sesuai dengan jenis kelaminnya. Misalnya, nama Putera untuk anak laki-laki dan Puteri untuk anak perempuan.
77.  Tahukah, bahwa pemberian nama yang sama dengan nama artis sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Tapi bila makna nama si artis tersebut memiliki maksud dan arti yang baik, maka dibolehkan. Sebab, dikhawatirkan anak akan mengikuti jejak mereka. Jadi, bagi sebagian pendapat ulama menjadi artis itu dianggap golongan orang fasik.
88. Sangat tidak dianjurkan memberi nama anak dengan nama-nama yang mengandung makna dosa dan maksiat. Misalnya si Sariq (pencuri).

Kita sebagai orangtua seharusnya sudah paham sejak awal kelahiran sang anak, bahwa persoalan memberikan nama kepada anak bukan perkara sepele sekedar mengisi kartu keluarga saja. Namun pahamilah bahwa nama yang melekat pada diri anak akan ia bawa sampai ia meninggal kelak, bahkan sampai di Hari Akhir.

Kewajiban memberikan nama dalam Islam, jatuh pada sang ayah. Kenapa? Sebab ayah akan menjadi garis nasab/keturunan bagi anak. Dan di akhirat kelak, nama anak akan dipanggil sesuai dengan nasab ayahnya. Misalnya Fulan bin Fulan (ayahnya).

Demikian beberapa acuan pemberian nama anak dalam Islam. Semoga bermanfaat bagi Anda. Dan sudahkah kita penuhi hak anak tentang nama untuknya?

You May Also Like

0 komentar