Transportasi Unggul,Indonesia Maju

by - November 09, 2019



(Keselamatan, keamanan dan kenyamanan transportasi saat ini)

Apa pendapat Anda tentang kendaraan umum sekarang ini? Pertanyaan ini pernah saya tanyakan kepada teman-teman dari berbagai daerah. Sebagai perantau dari ranah Minang, yang paling sering ditanyakan ialah ketika orang beramai-ramai pulang kampung saat musim lebaran. Saat ini saya bermukim di kota Depok, Jawa Barat (sebagai informasi saja sih). Dari beberapa informasi teman, sanak keluarga yang sudah merasakan perjalanan menggunakan kendaraan umum, baik darat, laut dan udara hampir sebagian besar mengatakan sangat nyaman. Kenyamanan tersebut mencakup, kendaraan itu sendiri, pelayanan, sarana dan prasarana yang mendukung. Pokoknya, nggak rugi deh naik kendaraan umum. Badan nggak capek, nyaman, ongkos terjangkau.

Apalagi coba? Hmm, saya penasaran saudara-saudara..

CURHAT DULU YAA..
Sebenarnya tulisan ini seperti curhat saya tentang bagaimana kondisi transportasi umum yang pernah saya gunakan. Baiklah, kita mulai yaa..

Sekitar akhir tahun lalu
Saya harus meninggalkan kota Depok untuk terbang ke kota Padang, tempat kedua orangtua saya tinggal dalam rangka menjenguk mereka yang tengah sakit. Ketika itu saya berangkat sendirian, karena anak-anak sekolah. Dan syukurnya suami support untuk mengurusi anak-anak selama saya mudik. Dia bilang, anggap traveling lah selama 10 hari. Asyik juga yaa..
Saat itu saya menggunakan pesawat Citilink dari Bandara Halim, tanggal 27 September 2018. Jadwal keberangkatan kebetulan dapatnya sore, jam 16.00 WIB. Harga tiketnya sekitar 800 ribuan. Alhamdulillah, rezeki calon debay. Oya, saat itu padahal saya sedang hamil 4 bulan lho. Walaupun banyak orang yang bilang jika sedang hamil muda amat sangat riskan untuk bepergian dengan transportasi umum, walaupun pesawat udara. Alhamdulillah, selama pergi dan pulang ke Padang-Depok tidak ada masalah apapun. Dan saat ini, debaynya sudah lahir. Usianya udah 6 bulan lagi, sehat dan montok hehe..

Sebenarnya, ini adalah perjalanan perdana saya pulang kampung, sendirian setelah menikah 13 tahun. Rasanya agak norak sih. Menikmati perjalanan mudik tanpa ditemani anak dan suami agak beda ya. Tapi, saya benar-benar menikmati maskapai milik CT Corp itu. Yang saya ingat, pak pilot sebelum terbang, sempat berpantun dengan bahasa Minang. Mungkin untuk mengurangi ketegangan jelang mengudara barangkali.

Sejujurnya, sedikit banyaknya ada perasaan khawatir dalam hati saya ketika pesawat mulai take off. Sekelebat muncul pikiran buruk, ‘semoga nasib pesawat ini baik, tidak seperti tragedi yang sudah-sudah.’ Segala doa dirapalkan dan sebuah mushaf kecil senantiasa saya baca sampai akhirnya saya ketiduran. Oya, saya sampai tidak merasakan mabuk udara lho, padahal sedang hamil muda.
Setelah sampai di Kota Padang, saya melihat banyak perkembangan di bidang transportasi. Iyalah, 13 tahun tidak menginjakkan kaki di kota bingkuang itu, lumayan banyak progress dalam hal pembangunan infrastruktur khususnya bidang transportasi
Ada bus Trans-Padang  yang siap mengantarkan kita untuk berkeliling kota. Ukuran bus yang tidak terlalu besar, membuat jalanan kota terlihat tidak terlalu ramai. Untuk moda transportasi antar kota dalam propinsi (akdp) menggunakan bus ¾, seperti ukuran metromini di Jakarta.

Untuk melanjutkan perjalanan ke kota Payakumbuh, tempat dimana kampung halaman saya berada, saya memilih menaiki bus ¾ itu. Penumpang tidak harus menunggu seluruh seat terisi baru berangkat. Minimal 5 orang penumpang, bus berangkat. Wah, saya terselamatkan dengan sistem ini. Itu artinya, saya tidak perlu berdempet-dempetan dengan penumpang lain selama perjalanan. Kasihan 'kan bayi dalam kandungan saya waktu itu.

Selama di Payakumbuh, saya hampir tidak melihat ada taksi. Setelah bertanya kepada penduduk sekitar, ternyata taksi konvensional sudah lama tidak beroperasi di kota Batiah itu. Bukannya tidak mau menggunakan angkot (angkutan kota) biasa, namun demi kenyamanan janin yang tengah saya kandung. Sebab, dokter kandungan sudah berpesan sebelum berangkat traveling untuk menghindari menggunakan kendaraan kecil. Guna menghindari guncangan pada tubuh saya yang dikhawatirkan berdampak pada kondisi janin.

Yuhuuu, saya menemukan transportasi online seperti Gojek dan Grab disana. Kebetulan saya hanya memiliki aplikasi Gojek di smartphone saya. Jadilah untuk kesana-kemari saya aktif menggunakan moda transportasi online tersebut. Sejauh apapun perjalanan selama di kampung halaman tacinto, kalau ada Gocar dan Gojek nasib saya terselamatkan. Ahh.. lama sekali saya meninggalkan kota ini sehingga perkembangannya tidak saya ketahui.

Setelah urusan menjenguk orangtua yang tengah sakit, saya pun kembali ke Depok. Pesawat terbang masih menjadi pilihan utama untuk jarak sejauh itu. Sebab, jika menggunakan bus antar kota antar propinsi (akap), sangat memakan waktu dan dianggap kurang efektif untuk ibu hamil muda seperti saya. Walaupun saya sering mendengar cerita-cerita kawan dan kerabat yang menggunakan alat transportasi darat, bahwa jalanan lintas Sumatera baik lintas Timur dan lintar Barat sudah sangat bagus, mulus, banyak rest area yang menyediakan makanan yang enak. Seorang kerabat mengatakan, jarak tempuh Jakarta-Padang via jalur darat sekitar 2 hari 1 malam. Tentu hal ini membuat perjalanan kian terasa nyaman bukan. Memotong waktu perjalanan seefektif mungkin sebab sarana dan prasarana penunjang transportasi umum di sepanjang pulau Sumatera semakin membuat nyaman masyarakat.
Intinya, saya senang dan dengan perjalanan jauh walau dalam kondisi hamil muda menggunakan transportasi umum. 

Nah, ada lagi pengalaman saya ketika menggunakan moda transportasi umum saat berada di Ibukota. Kereta Api Listrik (KRL). Ceritanya masih saat saya hamil dedek bayi Sultan. Ketika usia kehamilan saya menginjak 6 bulan, kami mengajak ketiga anak-anak untuk wisata transportasi umum. Selama ini, hampir belum pernah anak-anak bepergian menggunakan transportasi umum. Karena suami berpikiran, naik bus atau KRL itu repot, sumpek dan panas.
Lalu kenapa pada akhirnya kami mau naik kendaraan umum bersama anak-anak?

Rupanya dia sudah mencoba terlebih dahulu naik KRL jurusan Depok-Manggarai. Anda tahu bagaimana tanggapan suami saya. “Eh, nyaman banget lho naik KRL ternyata. Aku rasa kalau bawa anak-anak bakalan nyaman deh.”

Demi jalan-jalan naik KRL, dari rumah kami menggunakan Gocar menuju stasiun Pondok Cina, Depok. Lalu melanjutkan perjalanan dengan menaiki KRL dengan tujuan Tanjung Priok. Jadi dari ujung kota ke ujung kota. Hampir sekitar 2-3 jam perjalanan termasuk proses transit dari satu stasiun ke stasiun lainnya.
Sumpah, saya antara norak dan terkagum-kagum dengan moda transportasi umum satu ini. Di dalam KRL, semuanya bersih, tidak boleh merokok dan membawa makanan, adem dan aman. Petunjuk rute perjalanan ada di setiap pintu keluar. Jadi tidak membingungkan penumpang dia mau turun dimana. Petugas KRL tersebar dimana-mana guna menjaga keamanan pengguna kereta. Mulai dari stasiun sampai di dalam kereta guna membantu menjaga keteraturan masyarakat dalam berkendara. Oya, kami bepergian ketika weekend. Jadi, luapan penumpang tidak dirasakan. Ahhh, kok asyik sih sekarang naik kereta. Selain nyaman, aman lagi. 

Informasi ini mungkin bagi sebagian Anda sudah tidak dibutuhkan atau menjadi biasa saja. Namun bagi saya yang malas keluar rumah kalau bukan diantar suami, info menggunakan transportasi umum menjadi penting. Karena kadangkala di waktu-waktu tertentu ada situasi yang memaksa kita untuk bepergian sendiri naik kendaraan umum. Tentu saja faktor kenyamanan dan keamanan menjadi prioritas.


Ayo menggunakan transportasi umum.
Udara Ibukota katanya sudah sangat kotor, sehingga berimbas pada tingkat hawa yang panas. Sementara masyarakat, saat ini memiliki mobiling yang sangat tinggi. Berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain menggunakan kendaraan pribadi, rasanya saat ini bukan lagi pilihan bijak. Berikut hal-hal yang harus menjadi perhatian jika Anda menggunakan kendaraan pribadi :
1.      Pertimbangan biaya bensin.
2.      Pertimbangan biaya toll
3.      Pertimbangan biaya parkir
4.      Letihnya macet-macetan di jalan
5.      Efektif dan efisien waktu

Saya rasa, kita harus memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap pemerintah. Dimana dalam hal ini Dinas Perhubungan dibawah Kementrian Perhubungan semakin giat menggalakkan peremajaan kendaraan, pelatihan terhadap para pelaku usaha transportasi, perbaikan jalan dan hal lainnya yang berkaitan langsung dengan transportasi umum.

Lalu saya pun kepo dengan apa saja sih pencapaian kemenhub sejak 5 tahun terakhir ini. Dilansir dari BeritaTrans.com, Kemenhub memaparkan capaian kinerja selama 5 tahun (tahun 2015-2019) di Jakarta, Sabtu (19/10/2019). Hadir Menteri Perhubungan, Hadi Karya Sumadi. Beliau mengatakan bahwa, kemenhub telah berusaha keras untuk mewujudkan Indonesia sentris dalam pembangunan infrastruktur transportasi. Dengan pembangunan insfrastruktur di daerah-daerah akan meningkatkan konektivitas untuk mobilitas dan perpindahan orang dan barang. Walaupun ini memiliki tantangan yakni membuka isolasi keterbatasan konektivitas di wilayah terdepan, terpencil dan terluar (T3) Indonesia.

Lebih lanjut Menhub menguraikan, 3 sektor transportasi utama kita.

*Sektor transportasi darat, konsen pada pembangunan terminal, pengentasan Over Dimensi dan Over Load angkutan online dan optimasi angkutan penyeberangan. Untuk perkeretaapian, sedang fokus pada pembangunan kereta api ringan (LRT). Saat ini relnya sudah dibangun sepanjang 853 km dan merawat 623 dari target 750 km rel.

*Sektor transportasi laut, memodifikasi Tol Laut yang saat ini sudah ada 18 trayek, memanfaatkan kapal perintis dan pembangunan kapal.

*Sektor transportasi udara, pembangunan 15 bandara dan 10 diantaranya sudah diresmikan dan sisanya dalam progress. Kemudian menyoal ketepatan waktu penerbangan ditargetkan mencapai 88%.

Diakhir, Menhub menambahkan bahwa pekerjaan rumah yang tersisa diharapkan perkembangannya dapat diselesaikan dan konektivitas semakin meningkat. Sumber : beritatrans.com

Seperti kita ketahui bersama, transportasi merupakan unsur vital dalam kehidupan bangsa dalam memupuk kesatuan dan persatuan. Kepala Badan Litbang Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti mengatakan bahwa transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan terutama dalam mendukung kegiatan perekonomian masyarakat tak terkecuali yang berada di daerah pedesaan. Hal ini disampaikan dalam acara Focus Group Discussion dengan Tema ‘Peran Angkutan Pedesaan di dalam Sistem Transportasi Nasional’, di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Selasa (3/10/2017). Sumber : dephup.go.id

Transportasi adalah urat nadi kehidupan dari lahir sampai meninggal, kita membutuhkan trasportasi. Untuk itulah transportasi harus dibangun dengan standar keselamatan, kemudahan akses, nyaman, aman dan terjangkau. Hal ini disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Darat, Budi Setiyadi ketika beliau menjadi narasumber dalam acara Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi dan Informatika mewakili bapak Menteri Perhubungan RI di Palembang, Rabu (22/11/2019). 

Jadi, buat masyarakat semuanya tidak ada yang perlu kita takutkan lagi bila harus bepergian dengan menggunakan transportasi umum serta hal-hal yang berkaitan. Dalam hal ini, pemerintah sendiri sudah merekomendasikan faktor kenyamanan dan keamanan merupakan hal yang paling penting. 
Wah, kalau begini rencana saya sekeluarga untuk travelling akhir tahun ini dengan rombongan para bocah bakalan tercapai nih setelah tertunda beberapa tahun, karena kekhawatiran saya sendiri terhadap moda transportasi umum. Nyatanya, nggak beralasan tuh.. Itu karena saya belum tahu hehe.. Tak kenal maka tak sayang.. 
Maju Terus Transportasi Indonesia.


Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition Kemenhub

Sumber :
dephub.go.id
beritatrans.com
instagram :kemenhub














You May Also Like

0 komentar